Asal-Usul Nama "Canggu" & Keris Begawan Canggu
Terdapat keterbatasan data tertulis seperti lontar maupun prasasti yang secara gamblang mengungkap asal-usul nama Desa Canggu. Meski demikian, penelusuran sejarah menunjukkan adanya benang merah kuat antara nama "Canggu" dengan keberadaan pelabuhan besar milik Kerajaan Majapahit di muara Kali Brantas, Jawa Timur, yang juga bernama "Canggu".
Keterkaitan ini mengacu pada Babad Dalem Samprangan. Dikisahkan pada zaman kejayaan Majapahit yang dipimpin Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, Raja Bali kala itu (Dalem Ketut Ngelesir dari Kerajaan Gelgel) mengutus patihnya, Kyai Petandakan, untuk menghadap ke Majapahit.
Jejak Suci Danghyang Dwijendra & 7 Tirta Empul Batu Bolong
Vibrasi kesucian wilayah ini terus menguat dengan kedatangan resi besar penyebar ajaran Agama Hindu di Bali sekitar abad ke-14, Danghyang Dwijendra (Pedanda Sakti Wawu Rauh). Dalam perjalanannya menuju Kerajaan Gelgel, beliau singgah di pesisir Canggu, tepatnya di kawasan Pantai Batu Bolong.
"... tilar ring nyitdah, munggah ring samudra, sepenegaknya turun ring Canggu, kepernah putra apratistha pada, during ngasat Babelanguangen wewecana, malih sungkan magerah, raris mekarya tirta empul sapteng tiri, malih kenak ..."
— Kutipan Lontar Pedanda Sakti Wawu RauhTerjemahannya menuturkan bahwa setelah perjalanan lautan dari Desa Nyitdah, beliau tiba di Canggu dan sempat mengalami sakit. Dengan kekuatan yoganya, beliau lantas memunculkan 7 buah sumber mata air suci (Tirta Empul). Setelah membasuh diri dengan tirta tersebut, beliau sembuh seketika. Prasasti Pura Batur menyebutkan bahwa Tirta Empul di Batu Bolong merupakan pesucian Ida Bhatara ring Batur. Tautan historis ini menempatkan Canggu sebagai kawasan yang dihormati secara spiritual.
Penggabungan Desa & Era Kepemimpinan (10 Oktober 1958)
Dalam era modern, struktur kepemerintahan desa mulai terbentuk kokoh. Berdasarkan administrasi sejarah pasca-kemerdekaan RI, terjadi penggabungan dua desa yang krusial pada 10 Oktober 1958, yakni antara Desa Tibubeneng dan Perbekelan Canggu, membentuk satu entitas formal Desa Canggu di bawah kepemimpinan Perbekel I Nyoman Pegig.
Masa Kepemimpinan I Nyoman Pegig (1958 – 1974)
Mengawal transisi pasca penggabungan wilayah, sukses membangun Kantor Kepala Desa Canggu yang berlokasi di Banjar Pipitan.
I Wayan Jegriyasa (1974 – 1984)
Fokus pada penyediaan infrastruktur pendidikan dan sosial kemasyarakatan, seperti pembangunan Balai Desa dan sekolah Inpres.
Nyoman Kurdana (1984 – 1992)
Pencetus pengaspalan swadaya di berbagai Banjar, inisiasi dua LPD (LPD Desa Adat Canggu & LPD Padonan), serta penyusunan Awig-Awig di empat desa adat.